tragedi-kemanusiaan-serangan-udara-di-myanmar-barat-tewaskan-puluhan-warga-sipil

admacdonald – Sedikitnya 40 orang tewas dalam serangan udara yang menargetkan sebuah desa di Myanmar barat, menurut sejumlah kelompok hak asasi manusia dan media lokal. Serangan tersebut terjadi pada hari Kamis, 9 Januari 2025, di desa Kani, yang terletak di negara bagian Chin, sekitar 150 kilometer sebelah barat ibu kota Naypyidaw. Saksi mata di lokasi kejadian melaporkan bahwa serangan udara terjadi sekitar pukul 10.00 pagi waktu setempat. Pesawat tempur militer Myanmar dilaporkan menjatuhkan beberapa bom di daerah pemukiman warga, menghancurkan beberapa rumah dan fasilitas umum.

“Saya melihat pesawat tempur terbang rendah dan menjatuhkan bom. Ada ledakan besar dan asap tebal di mana-mana. Banyak orang yang terjebak di dalam rumah mereka,” kata seorang saksi mata yang tidak ingin disebutkan namanya.

Hingga saat ini, sedikitnya 40 orang telah dipastikan tewas, termasuk wanita dan anak-anak. Jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah karena masih ada beberapa orang yang hilang dan belum ditemukan. Lebih dari 50 orang lainnya mengalami luka-luka dan sedang dirawat di rumah sakit terdekat.

Sejumlah kelompok hak asasi manusia mengecam keras serangan tersebut. Human Rights Watch (HRW) menyebut serangan ini sebagai “kejahatan perang” dan mendesak komunitas internasional untuk segera mengambil tindakan.

“Serangan ini adalah pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional. Pemerintah Myanmar harus bertanggung jawab atas tindakan ini,” kata Phil Robertson, wakil direktur HRW untuk Asia.

Pemerintah Myanmar belum memberikan komentar resmi terkait serangan tersebut. Namun, militer Myanmar sering kali menyangkal tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan mengklaim bahwa mereka hanya menargetkan kelompok-kelompok bersenjata yang dianggap sebagai ancaman keamanan nasional.

Myanmar telah mengalami konflik sipil yang berkepanjangan sejak kemerdekaannya dari Inggris pada tahun 1948. Negara bagian Chin adalah salah satu daerah yang sering menjadi tempat bentrokan antara militer Myanmar dan kelompok-kelompok etnis bersenjata.

Serangan udara ini adalah salah satu dari serangkaian serangan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, yang semakin meningkatkan kekhawatiran tentang situasi kemanusiaan di Myanmar.

Sejumlah kelompok hak asasi manusia dan pemimpin dunia telah medusa88 menyerukan penyelidikan independen atas serangan tersebut. Mereka mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan tegas dan memastikan bahwa pelaku serangan diadili sesuai dengan hukum internasional.

“Kami meminta Dewan Keamanan PBB untuk segera mengadakan pertemuan darurat dan membentuk tim penyelidik independen untuk menyelidiki serangan ini,” kata seorang juru bicara PBB.

Serangan udara ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menghancurkan infrastruktur dan fasilitas umum di desa Kani. Banyak warga yang kehilangan tempat tinggal dan kini mengungsi ke daerah-daerah terdekat.

“Kami kehilangan segalanya. Rumah kami hancur, dan kami tidak tahu harus ke mana. Kami membutuhkan bantuan segera,” kata seorang warga yang kehilangan rumahnya dalam serangan tersebut.

Beberapa organisasi kemanusiaan telah mulai memberikan bantuan darurat kepada para pengungsi. Namun, akses ke daerah yang terkena dampak masih sangat terbatas karena situasi keamanan yang tidak stabil.

“Kami berusaha untuk memberikan bantuan sebanyak mungkin, tetapi situasi di lapangan sangat sulit. Kami membutuhkan dukungan dari komunitas internasional untuk dapat memberikan bantuan yang lebih efektif,” kata seorang pekerja kemanusiaan.

Serangan udara di desa Kani, Myanmar barat, adalah tragedi kemanusiaan yang mengejutkan dunia. Dengan sedikitnya 40 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka, serangan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang komitmen pemerintah Myanmar terhadap perlindungan hak asasi manusia. Komunitas internasional kini diharapkan untuk segera mengambil tindakan tegas dan memastikan bahwa keadilan ditegakkan bagi para korban.

By admin